Kisah Ibu Rumah Tangga (Rahel Yosi Ritonga)

IKHLAS

 

Setelah selesai menempuh studi S2, saya pulang ke Indonesia dan kemudian bekerja.

Tentu saja karena saya memegang gelar Master dari luar negeri, gaji saya langsung melesat. Pindah kerjapun gaji langsung menyesuaikan.

Setelah menikah dan punya anak, saya masih bekerja beberapa tahun dan bahkan pada tahun-tahun terakhir bekerja, saya diberi jabatan sebagai kepala bagian. Manusia mana yang tak senang punya gaji tinggi, punya jabatan, dan lagi dipercaya sebagai salah satu tangan kanan bos besar?
Harga yang harus saya bayar waktu itu?

Perkembangan anak saya tidak maksimal karena harus diurus oleh baby sitter. Gonta-ganti lagi, sehingga tidak hanya selalu bikin saya pening kepala tapi juga kasihan anak saya waktu itu.

Rumah kadang tidak terurus karena asisten yang tidak bekerja dengan sepenuh hati, akhirnya terkadang pulang kerja saya masih mengerjakan pekerjaan rumah juga.

Lima tahun yang lalu saya memutuskan berhenti bekerja, mengurus anak sendiri. Bahkan sekarang punya dua anakpun saya urus sendiri.

Dan hampir dua tahun ini, saya memutuskan mengurus rumah sendiri, tidak dengan seorangpun asisten... yang biasanya paling tidak ada dua orang.

Ternyata pilihan-pilihan ini membuat saya jauh lebih bahagia walaupun dengan segala keterbatasan yang saya miliki.

Saya hanya minta dua dari Tuhan: sehat dan sabar.
Tidak ada lagi gaji fantastis apalagi jabatan sangar.

Tidak ada lagi anak buah yang membungkukkan badan sewaktu bertemu saya dan memberikan laporan-laporan.

Sehari-hari saya hanya pakai daster, mengurus anak-anak, dan membersihkan rumah.

Baca Juga : Buat Ibu Yang Sibuk Berbisnis

Kata orang dunia, saya "hanya" seorang ibu rumah tangga. Tapi mengejutkan, bahwa dibalik kesederhanaan dan kerepotan ini saya merasa "penuh", bahagia, dan cukup. Kata cukup disini adalah bukan masalah uang, walaupun hidup memang butuh uang. Tidak munafik. Tapi cukup disini artinya apa yang saya jalani tidak membuat saya kurang atau malu.

Bahkan saya tidak merasa rendah diri ketika mereka mengenal siapa suami saya dan sedangkan mengetahui bahwa istrinya hanyalah ibu-ibu berdaster di rumah yang suka pegang sapu.

Saya mengucap syukur dan bangga dengan "image" saya.

Hidup memang selalu harus memilih. Seringnya ada hal-hal yang harus dikorbankan, entah itu diri sendiri maupun orang-orang yang kita kasihi.
Tapi tetap kita harus menjalani kehidupan ini dengan ikhlas dan penuh rasa syukur.

Bila anda membaca tulisan ini dengan hati nurani, anda akan tahu bahwa disini sama sekali tidak ada esensi untuk menyinggung ibu yang bekerja. Tulisan ini adalah sharing tentang bagaimana saya mengambil sebuah keputusan hidup yang tidak glamor namun membuat saya bahagia.

Sejatinya saya percaya bahwa kebahagiaan sebuah rumah diawali dari seorang ibu yang melakukan semuanya dengan penuh rasa syukur, entah ia mencari nafkah di luar rumah atau menjadi ibu rumah tangga.

Fontes: Fb Emak Rahel Yosi Ritonga 💋
Derga Hadomi

Komentar